Dua Obligasi Global Meluncur hingga Akhir 2022

Dua Obligasi Global Meluncur hingga Akhir 2022

Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan kembali menerbitkan dua obligasi global atau global bond hingga akhir 2022, jika mengikuti rencana yang sudah ada di dalam pipeline.
 
“Implementasi penerbitan obligasi global ini akan fleksibel, baik dari segi waktu, besaran, dan mata uangnya,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman, dilansir Antara, Jumat, 12 Agustus 2022.
 
Maka dari itu, ia menekankan akan terus melihat kondisi pasar, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta risiko yang akan dihadapi, barulah akan dituangkan penerbitan obligasi global dalam bentuk keputusan.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam menerbitkan obligasi global, pemerintah selalu mempertimbangkan dan memperhatikan beberapa hal, misalnya kondisi APBN, kebutuhan pembiayaan, kondisi dalam negeri maupun luar negeri, serta kondisi pasar.
 
Menurut Luky, kondisi global saat ini masih sangat penuh tantangan dan diliputi ketidakpastian dan volatilitas, sehingga penerbitan obligasi global selanjutnya akan bersifat lebih oportunistik, fleksibel, tetapi tetap berhati-hati.
 

Penerbitan obligasi tahun ini makin turun

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam kesempatan yang sama menyebutkan penerbitan obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) pada tahun ini kian menurun, dengan penerbitan obligasi global yang menyesuaikan kondisi pasar yang volatil dan kondisi kas yang masih cukup berlimpah.
 
Dengan demikian, realisasi pembiayaan melalui utang dalam periode Januari hingga Juli 2022 turun 49,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) dari Rp468,8 triliun menjadi Rp236,9 triliun.
 
“Ini artinya APBN makin diupayakan kesehatannya,” tegas Sri Mulyani.
 
Secara rinci, realisasi pembiayaan utang hingga Juli 2022 terdiri dari SBN neto Rp223,9 triliun atau turun 54,1 persen (yoy) dari Rp487,4 triliun, serta pinjaman neto Rp13 triliun atau anjlok 169,7 persen (yoy) dari minus Rp18,7 triliun.
 
Di sisi lain, Bendahara Negara itu mengungkapkan Bank Indonesia (BI) masih terus membeli SBN melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) I mencapai Rp35,94 triliun, yang terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) senilai Rp19,39 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Rp16,54 triliun.
 
Selanjutnya dari SKB III, realisasi pembelian SBN bank sentral telah mencapai Rp21,87 triliun dari penerbitan pada Juli 2022.
 
Secara keseluruhan, penurunan outlook defisit APBN menjadi 3,92 persen pada 2022 dan penambahan penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) menyebabkan target utang tunai turun sebesar Rp221 triliun dari Rp1.416 triliun menjadi Rp1.195 triliun.
 

(AHL)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *