Gawat! Ada Krisis Baru di AS, Pasar Keuangan RI Siaga Satu

Gawat! Ada Krisis Baru di AS, Pasar Keuangan RI Siaga Satu

harianfakta.comJakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan pekan ini cenderung bergerak bingung dan tidak menunjukkan kinerja yang impresif pekan lalu. Tidak bisa dipungkiri, bahwa sentimen The Fed masih menjadi momok mengerikan bagi pasar finansial Tanah Air.

Kinerja Indeks Hraga Saham Gabungan (IHSG) bergerak sangat labil pekan lalu. Sentimen eskternal dan dari dalam negeri cenderung tak sejalan membuat geraknya tak karuan. Kendati demikian, IHSG masih melemah 0,71% sepekan.

Dengan demikian, IHSG sudah ambruk dalam tiga pekan beruntun. Namun, investor asing masih mencatatkannet buydalam sepekan yakni sebesar Rp 32,59 miliar.

Dari pasar keuangan lain Rupiah kembali tak berdaya di hadapan dolar AS. Nilai tukar rupiah dan hampir seluruh mata uang utama dunia hancur pada pekan ini akibat pernyataanhawkishPowell.

Mampukah pasar keuangan bangkit di tengah kekhawatiran suku bunga The Fed yang diprediksi akan lebih tinggi?

Pertama, Investor tentu saja masih fokus mencermati sentimen pasar dari implikasi atas pengumuman sejumlah data ekonomi yang menjadikan sinyal-sinyal bagi para investor sejauh mana The Fed akan mengambil langkah untuk mengerek suku bunga akhir bulan ini.

Dua kali Powell berpidato tepatnya pada Selasa (7/3/2023) dan Rabu (8/3/2023) tak ada satupun yang membuat investor lega. Kedua pidatonya memunculkan kecemasan bahwa suku bunga akan terus naik beberapa waktu ke depan.

Ini dipicu oleh data ekonomi AS yang masih terlihat kuat, utamanya dari data tenaga kerja. Powell menilai kenaikan suku bunga saat ini belum mampu menekan inflasi ke target mereka di kisaran 2%. Data-data terbaru juga menunjukkan ekonomi AS masih berlari kencang.

Pekan depan akan ada rilis data inflasi AS. Tentu ini menjadi hal utama yang dilihat untuk menentukan arah suku bunga. Sebelumnya, angka inflasi Amerika Serikat (AS) berbalik lebih tinggi di awal 2023. Kenaikan biaya tempat tinggal dan bahan bakar berdampak ke konsumen.

Sebagaimana dilaporkan Departemen Tenaga Kerja AS, indeks harga konsumen naik 0,5% di Januari 2023 secara bulanan (month to month/mtm). Secara tahunan (yoy), inflasi berada di 6,4%.

Angka ini di atas ekspektasi sejumlah analis. Sebelumnya survei ekonom Dow Jones, mengutipCNBC International, memperkirakan kenaikan masing-masing 0,4% dan 6,2%.

Sementara itu, inflasi inti- yang tak termasuk makanan dan energi- meningkat 0,4% secara bulanan dan 5,6% secara tahunan. Analis sebelumnya memperkirakan masing-masing 0,3% dan 5,5%.

Seperti diketahui, ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa tetap mempertahankan target inflasi sebesar 2%. Target inilah yang membantu upaya penurunan inflasi AS.

“Sangat penting untuk tetap berpegang pada target inflasi dua persen. Kami tidak mempertimbangkan untuk mengubahnya,” kata Powell di hadapan Komite Perbankan Senat AS, dikutip Reuters pada Rabu (8/3/2023).

Untuk diketahui, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya 8 kali selama setahun terakhir, yang terbaru adalah kenaikan seperempat poin persentase awal bulan lalu yang membawa suku bunga pinjaman semalam ke kisaran target 4,5%-4,75%.

Kenaikan suku bunga yang cepat dikhawatirkan memicu resesi dan meningkatkan jumlah pengangguran. Oleh karena itu, banyak pihak mendorong tTe Fed untuk menaikkan target inflasinya.

Namun, pejabat The Fed telah berulang kali menolak gagasan itu. Mereka berpendapat langkah tersebut akan merusak kredibilitas The Fed di hadapan pasar dan publik yang lebih luas. Mereka percaya menaikkan target inflasi akan mempersulit upaya pengendalian harga di masa depan.

Nilai tukar rupiah dikhawatirkan terus melemah jika The Fed sangat agresif ke depan. Pasalnya, kenaikan suku bunga The Fed akan membuat dolar AS semakin menarik sehingga investor lebih memilih melepas rupiah dan beralih ke dolar AS.

Belum Selesai Urusan The Fed, Krisis Baru Pasar Ketar-ketir

Belum selesai urusan The Fed, investor harus dihadapkan lagi dengan kabat tidak menyenangkan dari pasar keuangan AS yang diguncang krisis perbankan AS setelah Silicon Valley Bank tutup. Bank tersebut gagal menemukan investor baru dan sekarang membutuhkan suntikan modal senilau US$ 2,25 miliar untuk menyeimbangkan neracanya.

Krisis yang dialami Silicon Valley Bank dianggap sebagai kegagalan terbesar bank sejak Krisis Keuangan Global 2008/2009.Krisis juga dikhawatirkan bisa menggoncang sektor perbankan secara keseluruhan.

Saham Silicon Valley Bank (SVB) merupakanpemberi pinjaman penting untuk bisnis startup.

SVB adalah mitra perbankan untuk hampir setengah dari perusahaan teknologi dan perawatan kesehatan yang didukung usaha AS yang terdaftar di pasar saham tahun lalu.

Di pasar yang lebih luas, ada kekhawatiran tentang nilai obligasi yang dimiliki bank karena kenaikan suku bunga membuat obligasi tersebut menjadi kurang berharga. Sentimen negatif yang bertubi-tubi membuat pasar keuangan Asia dan AS bakal goyang.

Kapitalis ventura dan mantan CEO teknologi David Sacks menuliskan pendapatnya di twitter untuk meminta pemerintah federal untuk mendorong bank lain untuk membeli aset SVB.

“Di mana Powell? Dimana Yellen? Hentikan krisis ini sekarang. Umumkan bahwa semua deposan akan aman. Tempatkan SVB dengan bank Top 4. Lakukan ini sebelum Senin buka atau akan ada penularan dan krisis akan menyebar.” Ungkapnya.

Dampak SVB bisa merambat ke sektor perbankan secara keseluruhan bahkan bisnis yang lain.Terlebih, kondisi ekonomi global saat ini belum pulih dari krisis pandemi Covid-19. Suku bunga di tingkat global juga masih sangat tinggi.

Dari dalam negeri, investor patut mencermati data neraca perdagangan yang akan dirilis pada Rabu (15/3/2023). Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor Indonesia sepanjang Januari 2022 sebesar US$22,31 miliar atau turun 6,36% dari bulan sebelumnya. Angka ini masih naik 16,37% dari Januari 2022. Tren penurunan ini telah tampak sejak lima bulan terakhir.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

error: Content is protected !!