Jaga Indonesia dari Krisis Pangan Dunia, Petrokimia Gresik Tambah Bahan Baku Pupuk dan SDM

Jaga Indonesia dari Krisis Pangan Dunia, Petrokimia Gresik Tambah Bahan Baku Pupuk dan SDM

SURYA.CO.ID, GRESIK – Krisis pangan dunia bukan sesuatu yang mustahil terjadi, karena bisa dialami banyak negara. Indonesia pun patut waspada agar terhindar dari krisis itu, karenanya Petrokimia Gresik siap memberikan dukungan untuk menghindari kondisi itu dengan menempuh sejumlah langkah.

Di antara langkah yang ditempuh Petrokimia Gresik adalah melakukan peningkatan sumber daya manusia (SDM), penyediaan pupuk, penyediaan dana dan peningkatan bahan baku pupuk.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo mengatakan, Petrokimia Gresik memahami perannya dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani. Hal itu dilakukan agar Indonesia keluar dari ancaman krisis pangan.

Dwi Satriyo menegaskan, Petrokimia Gresik memastikan produksi dan distribusi pupuk hingga petani berjalan dengan lancar. Selain itu, bahan baku pupuk saat ini masih dari impor.

Untuk menjaga ketahanan pangan nasional, Petrokimia Gresik menambah pengadaan KCl dari Kanada, tentu dengan harga yang rasional.

“Bahan baku yang sempat mengalami permasalahan adalah KCl untuk produksi pupuk NPK. Pada kondisi normal, jumlah KCl yang diimpor adalah 41,6 juta ton setahun. Dari total tersebut, 47 persen berasal dari Belarusia dan Rusia,” kata Dwi Satriyo, di hadapan Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat menjadi narasumber dalam program Indonesia Business Forum (IBF), di TV One.

Selain itu, Petrokimia Gresik berupaya meningkatkan produktivitas pertanian melalui program Agro Solution. Program ini berupaya menciptakan ekosistem pertanian secara komprehensif, baik on farm maupun off farm.

Mulai dari penyediaan dana atau modal usaha yang bersinergi dengan perbankan, jaminan asuransi, ketersediaan pupuk, pengawalan pengendalian hama dan off-taker.

“Dalam program ini, Petrokimia Gresik mengedukasi penggunaan pupuk non subsidi. Dengan pengawalan yang baik, sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani,” imbuhnya.

Petrokimia Gresik juga melakukan transformasi digital untuk memastikan perbaikan kinerja, agar kebutuhan petani bisa tercukupi dengan baik. Serta pengembangan SDM pertanian dengan menggandeng penyelenggara pendidikan sektor pertanian.

“Ini langkah Petrokimia Gresik dalam berupaya mendukung pemerintah untuk keluar dari ancaman krisis pangan global. Petrokimia Gresik menciptakan SDM unggul pertanian dengan membuka program magang bagi mahasiswa pertanian, bekerja sama dengan tujuh Politeknik Pertanian di Indonesia, sehingga mendorong regenerasi di sektor pertanian,” paparnya.

Mentan RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, ancaman krisis pangan dunia saat ini disebabkan beberapa hal. Mulai Covid-19 selama 2,5 tahun yang menjadikan semua sektor berjalan tidak linier. Kemudian, climate change dan pengaruh geopolitics yaitu perang di kawasan Eropa.

“Neraca kita saat ini cukup baik, 12 komoditas dasar kita cukup terjaga. Tetapi kita tidak boleh terlalu percaya diri. Semua langkah harus dipersiapkan. Ini (ancaman krisis pangan) harus kita waspadai, karena tentu akan beresonansi pada kita. Jangan lupa Indonesia adalah negara keempat terbesar. Ada 273 juta orang yang membutuhkan pangan dan tidak bisa ditunda,” kata Syahrul.

Mentan menegaskan, untuk menghadapi tantangan pangan tersebut, dibutuhkan kolaborasi dan peranan aktif para stakeholder, termasuk Petrokimia Gresik yang saat ini juga memikul amanah menyalurkan pupuk bersubsidi bagi petani di berbagai daerah di Indonesia.

“Presiden selalu mengatakan, harus ada langkah luar biasa dari semua pihak untuk menghadapi tantangan ini,” tegasnya. ****


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.