Kronologi Tragedi Kanjuruhan Versi Tersangka Abdul Haris

Kronologi Tragedi Kanjuruhan Versi Tersangka Abdul Haris

Malang: Ketua panitia pelaksana (Panpel) pertandingan Arema FC, Abdul Haris, menjadi salah satu dari enam orang yang ditetapkan tersangka terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.
 
Abdul Haris membeberkan sejumlah kronologi tragedi yang menewaskan 131 orang tersebut. Awalnya sebelum tragedi terjadi pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya berjalan baik-baik saja.
 
“Pertandingan ketika itu berjalan, mulai menit awal pertandingan juga tidak ada kericuhan. Dari PAM Panpel kurang kebih ada 250 steward berjaga di pintu maupun di tempat-tempat untuk alur pemain, penempatan media, para tamu, disitu sudah tersedia,” kata Abdul Haris, saat konferensi pers di Kantor Arema FC, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat 7 Oktober 2022.
 

Haris menerangkan semua kelengkapan pertandingan telah disiapkan. Salah satunya enam ambulans dengan rincian empat ambulans di dalam stadion dan dua ambulans di luar stadion.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Begitu juga ketika briefing, Pak Suko (Security Officer) juga saya sampaikan, ini adalah laga big match. Tolong semua pintu dipastikan nanti terbuka, menit 85 atau 10 menit sebelum pertandingan usai, pintu harus dibuka. Itu adalah sesuai dengan prosedur dan dilaksanakan,” jelasnya.
 
Namun segala persiapan ternyata di luar prediksi Haris. Kerusuhan terjadi beberapa saat setelah tim Arema FC mengalami kekalahan atas Persebaya dengan skor 2-3 dengan durasi pertandingan 90+7 menit.
 
Haris menerangkan tugas utama panpel adalah mengevakuasi pemain, baik pemain tim tamu maupun pemain tim tuan rumah, serta perangkat pertandingan. Evakuasi diakuinya telah berjalan dengam baik.
 
“Ketika menit 97 peluit dibunyikan, kita evakuasi pemain Persebaya. Saya masuk ke ruang ganti pemain untuk memastikan bahwa pemain Surabaya harus sudah segera masuk kendaraan rantis dan evakuasi keluar ke hotel,” ungkapnya.
 
Sekitar lima menit setelah menengok tim Persebaya, Haris mulai mendengar keributan di dalam stadion. Ia mengaku, suporter Arema FC, Aremania mulai masuk dari tribun menuju lapangan untuk memberikan dukungan kepada tim kesayangannya.
 
“Dan ada beberapa penembakan gas air mata. Yang saya lihat juga di pinggir lapangan ada, di pintu 13 ada, pintu jalur evakuasi, pintu 12 dan 13 juga ada. Terjadilah kepanikan yang luar biasa, saya telepon pakai HP juga nggak bisa, crowded. Saya minta bantuan, saya cari Pak Kapolres, saya cari komandan yang ada disitu, saya minta bantuan untuk segera dikirim ambulan sebanyak-banyaknya juga tenaga medis,” jelasnya.
 
Saat itu, Haris mendapat informasi bahwa di luar stadion, kendaraan yang ditumpangi tim Persebaya dan truk dihadang oleh Aremania. Namun saat itu, Haris memutuskan untuk masuk lagi ke dalam lapangan.
 
“Dengan mata perih, sesak napas yang saya hirup. Saya memastikan pemain Arema, harus segera masuk. Saya lihat Maringa (kiper Arema FC) di pojok dirangkul sama Aremania. Saya teriaki, saya minta tim nya Pak Suko, steward, segera tarik, tarik,” ungkapnya.
 
Setelah menarik seluruh pemain Arema FC, Haris pun masuk ke dalam stadion. Di sana ia melihat sudah banyak korban berjatuhan.
 
“Sudah banyak adik-adik kita, saudara-saudara kita bergeletakan tanpa bisa apa yang saya harus perbuat. Mereka saya lihat ada yang lebam mukanya, tidak bisa napas, ada yang sekarat, dan saya pegang kakinya, saya pegang lehernya, saudaraku, anakku, sudah meninggal,” tuturnya.
 
Haris sempat meminta tambahan petugas medis untuk menyelamatkan korban yang berjatuhan. Namun, petugas medis dari luar stadion kesulitan masuk ke dalam stadion.
 
“Lalu saya berinisiatif, saya minta bantuan kepada pengamanan untuk evakuasi. Di pintu 12, pintu 13. Saya minta tolong lah pak, atas nama kemanusiaan, secepatnya, saya gedor-gedor disitu. Ada beberapa truk dari Zipur, saya paksa untuk dijadikan ambulans,” katanya.
 
Saat itu beberapa korban juga sempat dimasukkan ke ruang ganti pemain. Disana masih ada manajemen dan beberapa pemain. Mereka diakui Haris tak bisa berbuat apa-apa melihat banyaknya korban berjatuhan.
 

 
 

(DEN)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.