Putin Puji Pengaruh Pusat Kekuatan Baru Dunia, Termasuk Tiongkok

Putin Puji Pengaruh Pusat Kekuatan Baru Dunia, Termasuk Tiongkok

Tashkent: Presiden Tiongkok Xi Jinping menyerukan negara-negara kawasan untuk membentuk kembali tatanan internasional. Ia menyampaikannya dalam pertemuan puncak Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Uzbekistan.
 
“Para pemimpin harus bekerja sama untuk mempromosikan pengembangan tatanan internasional ke arah yang lebih adil dan rasional,” kata Xi dalam pidatonya di SCO, dikutip dari AFP, Jumat, 16 September 2022.
 
Xi menegaskan, para anggota harus meninggalkan ‘permainan zero-sum dan memblokir politik’, serta menjunjung tinggi sistem internasional dengan PBB sebagai intinya.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam kesempatan yang sama, Presiden Rusia Vladimir Putin memuji pengaruh yang berkembang dari ‘pusat kekuatan baru’. Negara yang dimaksud, termasuk Tiongkok.
 
“Peran pusat kekuatan baru yang berkembang yang bekerja sama satu sama lain menjadi semakin jelas,” kata Putin.
 
SCO – yang terdiri dari Tiongkok, India, Pakistan, Rusia dan negara-negara bekas Uni Soviet di Asia Tengah seperti Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan – didirikan pada 2001 sebagai organisasi politik, ekonomi, dan keamanan untuk menyaingi institusi Barat.

Pertemuan Putin dan Xi Jinping

Dalam pertemuan ini, Xi dan Putin saling bertemu. Keduanya membahas mengenai perang Ukraina dan masalah Taiwan.
 
Putin memuji pemimpin Tiongkok atas apa posisi ‘seimbang’ dalam perang Rusia-Ukraina tersebut. “Kami sangat menghargai posisi seimbang dari teman-teman Tiongkok kami dalam hal krisis Ukraina,” kata Putin kepada Xi, yang dia panggil sebagai “Kamerad Xi Jinping yang terhormat, teman baik”.
 
“Kami memahami pertanyaan dan kekhawatiran Anda tentang hal ini. Dalam pertemuan hari ini, tentu saja akan menjelaskan posisi kami dan menjelaskan secara rinci posisi kami tentang masalah ini. Meskipun hal itu telah dibicarakan sebelumnya,” tegas Putin.
 
Sementara itu, Xi tidak menyebut Ukraina dalam sambutannya. Negeri Tirai Bambu telah menahan diri untuk tidak mengutuk operasi Rusia terhadap Ukraina atau menyebutnya sebagai “invasi” sejalan dengan Kremlin, yang menyebut perang itu sebagai “operasi militer khusus”.
 
Terakhir kali Xi dan Putin bertemu langsung, hanya beberapa minggu sebelum invasi 24 Februari. Kedua pemimpin sempat mendeklarasikan kemitraan ‘tanpa batas’ dan menandatangani janji untuk berkolaborasi lebih banyak melawan Barat.
 

(FJR)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.