Siap Nyapres, Kepoin Riwayat Pendidikan Anies Baswedan dari TK hingga S3

Siap Nyapres, Kepoin Riwayat Pendidikan Anies Baswedan dari TK hingga S3

Jakarta:  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan kesiapannya menjadi calon presiden (capres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.  Dalam pernyataan yang disampaikannya di Singapura tersebut, Anies juga mengaku tidak akan menolak jika ada tawaran dari partai politik (parpol) untuk mengusungnya di pesta demokrasi 5 tahunan tersebut.
 
“Saya siap mencalonkan diri sebagai presiden jika ada partai mencalonkan saya,” kata Anies diberitakan Reuters di Singapura, dikutip Jumat, 16 September 2022.
 
Menjabat sebagai orang nomor 1 di DKI Jakarta selama lima tahun meninggalkan banyak rekam jejak hasil kerja dari sejumlah program yang membuat namanya semakin diperhitungkan.  Begitu juga dengan keputusannya untuk siap nyapres membuat masyarakat semakin ingin tahu profil Anies Baswedan, terutama dari riwayat hidup dan latar belakang pendidikannya. 

Riwayat Sekolah Anies Baswedan

Dilansir dari laman Perpusnas, Anies Rasyid Baswedan Ph.D merupakan kelahiran 7 Mei, 1969 di Kuningan Jawa Barat dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid.  Anies mulai mengenyam bangku pendidikan di usianya yang menginjak 5 tahun.
 
Kala itu, Anies kecil bersekolah di TK Masjid Syuhada. Menginjak usia 6 tahun, Anies masuk ke SD Laboratori, Yogyakarta. Di masa kecilnya, Anies dikenal sebagai seseorang yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selepas lulus SD, Anies diterima di SMP Negeri 5 Yogyakarta.  Ia bergabung dalam OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) di sekolahnya, dengan mulai menduduki jabatan sebagai pengurus bidang humas yang dijuluki sebagai “seksi kematian,” karena tugasnya mengabarkan kematian. Anies juga pernah ditunjuk menjadi ketua panitia tutup tahun di SMP-nya
 
Lulus dari SMP, Anies meneruskan pendidikannya di SMA Negeri 2 Yogyakarta.  Anies tetap aktif berorganisasi hingga terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS dan mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama 300 orang Ketua OSIS se-Indonesia.
 
Hasilnya, Anies terpilih menjadi Ketua OSIS se-Indonesia pada tahun 1985. Pada tahun 1987, dia terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat.
 
AFS adalah organisasi internasional, berbasis relawan, non-pemerintah, yang menjembatani pembelajaran antar budaya untuk membantu orang mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang diperlukan untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan damai. AFS didedikasikan untuk membangun komunitas inklusif warga global yang bertekad untuk membangun jembatan pemahaman antar budaya.
 
Program ini membuatnya menempuh masa SMA selama empat tahun dan baru lulus pada tahun 1989.  Sekembalinya ke Yogyakarta, Anies mendapat kesempatan berperan di bidang jurnalistik.
 
Ia bergabung dengan program Tanah Merdeka di Televisi Republik Indonesia cabang Yogyakarta dan mendapat peran sebagai pewawancara tetap tokoh-tokoh nasional

Kuliah S1 di UGM (1989-1995)

Lulus SMA, kemudian Anies diterima masuk di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Dia tetap aktif berorganisasi, bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam dan menjadi salah satu anggota Majelis Penyelamat Organisasi HMI UGM.
 
Di fakultasnya, Anies menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa dan ikut membidani kelahiran kembali Senat Mahasiswa UGM setelah pembekuan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
 
Lalu ia terpilih menjadi Ketua Senat Universitas pada kongres tahun 1992 dan membuat beberapa gebrakan dalam lembaga kemahasiswaan. Anies membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif memosisikan senat sebagai lembaga legislatif yang disahkan oleh kongres pada tahun 1993.
 
Masa kepemimpinannya juga ditandai dengan dimulainya gerakan berbasis riset, sebuah tanggapan atas tereksposnya kasus BPPC yang menyangkut putra Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra. Anies turut menginisiasi demonstrasi melawan penerapan Sistem Dana Sosial Berhadiah pada bulan November 1993 di Yogyakarta.
 
Pada tahun 1993, Anies mendapat beasiswa dari JAL Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas di Sophia University, Tokyo dalam bidang kajian Asia. Beasiswa ini ia dapatkan setelah memenangkan sebuah lomba menulis mengenai lingkungan.

Peraih Beasiswa Fulbright

Dilansir dari laman Jakarta.go.id, lepas lulus jenjang sarjana, Anies Baswedan melanjutkan studi S2 atau masternya di Universitas Maryland, Amerika Serikat (1998)  dengan beasiswa Fulbright. Langkah pendidikannya kian mulus, setelah lulus S2, Anies kembali memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Northern Illinois, Amerika Serikat  (2004). 

Raih Penghargaan 

Selain itu, Anies meraih berbagai prestasi berupa penghargaan dari berbagai lembaga penelitian dan organisasi kemitraan pemerintah dalam bidang ekonomi, politik, budaya, serta hak asasi manusia. Beberapa penghargaan itu di antaranya adalah Program Penghargaan Mahasiswa ASEAN from USAID – USIA – NAFSA dan William P. Cole III Fellowship from School of Public Policy, University of Maryland, USA yang sama-sama diraih pada tahun 1998.
 
Pada tahun 2008, Anies juga termasuk ke dalam Top 100 Intelektual Publik from Foreign Policy Magazine. Di bidang Hak Asasi Manusia, Anies meriah Penghargaan Soegeng Sarjadi untuk Inisiatif Hak Asasi Manusia (Oktober 2011).
 
Kemudian, pada tahun 2013, Anies juga mendapatkan Anugerah Integritas Nasional dari Komunitas Pengusaha Antisuap (Kupas) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. 
 
Anies Baswedan menikah dengan Fery Farhati Ganis yang juga bergelar Master dari kampus yang sama, Universitas Northern Illinois, Amerika Serikat, dan dikaruniai empat anak.
 
Sebagai akademisi, Anies pernah menjabat Rektor Universitas Paramadina, Jakarta pada 2007-2015 di usia 38 tahun. Rekam jejaknya sebagai akademisi, kemudian mengantar kariernya kian moncer ke ranah politik.

 

(CEU)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.