News  

Dolar AS tetap tertekan, pasar evaluasi kenaikan suku bunga Fed

Dolar AS tetap tertekan, pasar evaluasi kenaikan suku bunga Fed

New York (ANTARA) – Nilai tukar dolar AS sedikit lebih rendah pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), menyusul kerugian satu persen hari sebelumnya ketika data menunjukkan inflasi AS tidak sepanas yang diantisipasi pada Juli, mendorong para pedagang untuk mengevaluasi kembali ekspektasi kenaikan suku bunga di masa depan oleh Federal Reserve.

Investor memangkas spekulasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin untuk ketiga kalinya berturut-turut guna membantu menjinakkan inflasi yang tinggi selama beberapa dekade ketika bertemu pada September, setelah sebuah laporan pada Rabu (10/8/2022) menunjukkan harga konsumen AS tidak berubah pada Juli.

Dolar mencatat penurunan terbesarnya dalam lima bulan setelah laporan tersebut karena para pedagang menyesuaikan kembali perkiraan mereka untuk memperhitungkan kemungkinan bahwa inflasi mungkin telah mencapai puncaknya.

Pedagang berjangka dana Fed sekarang memperkirakan peluang 58 persen untuk kenaikan 50 basis poin pada September dan peluang 42 persen untuk kenaikan 75 basis poin.

Penurunan greenback berlanjut hingga Kamis (11/8/2022), jatuh sebanyak 0,57 persen di awal sesi, tetapi kemudian memulihkan sebagian besar kerugian tersebut. Indeks dolar turun 0,114 persen pada 105,1 pada pukul 19.30 GMT, jauh dari puncak dua dekade di 109,29 yang dicapai pada 14 Juli.

“Kita mungkin telah melihat puncaknya, tetapi saya akan berhati-hati dalam memperkirakan pelemahan dolar yang signifikan dari sini,” kata ahli strategi valas UBS, Vassili Serebriakov.

Penurunan mata uang mungkin telah ditopang oleh pejabat Fed yang berusaha meredam ekspektasi kebijakan yang secara signifikan lebih longgar, dengan Neel Kashkari mengatakan pada konferensi Rabu (10/8/2022) bahwa bank sentral “jauh, jauh dari menyatakan kemenangan” pada inflasi.

Data pada Kamis (11/8/2022) menunjukkan bahwa harga produsen AS secara tak terduga turun pada Juli di tengah penurunan biaya produk energi dan inflasi produsen yang mendasari tampaknya berada dalam tren menurun, sementara klaim pengangguran naik untuk minggu kedua berturut-turut di pasar tenaga kerja yang tetap ketat.

Data inflasi positif membantu pasar ekuitas melonjak pada Rabu (10/8/2022) dan Kamis (11/8/2022), tetapi reli gagal karena investor mempertanyakan langkah Fed selanjutnya.

“Melonggarnya kondisi keuangan yang terjadi di seluruh sistem keuangan global tidak sejalan dengan di mana pejabat Fed ingin mengambil kebijakan, sehingga kenyataan bagi pedagang valas adalah bahwa mungkin pergerakan pasar saat ini dalam jangka pendek,” kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Corpay.

Euro dan yen Jepang termasuk di antara mata uang yang diuntungkan dari pelemahan dolar pada Rabu (10/8/2022).

Euro terakhir naik 0,23 persen pada 1,0322 dolar, sementara yen merosot 0,06 persen menjadi 132,95 yen per dolar setelah naik lebih dari satu persen pada Rabu (10/8/2022).

Sterling turun 0,18 persen terhadap dolar menjadi 1,2195 dolar, mengembalikan sebagian dari kenaikan lebih dari satu persen pada hari sebelumnya.

Baca juga: Dolar merosot lebih jauh di Eropa, setelah kejutan inflasi AS

Baca juga: Dolar jatuh setelah data inflasi AS lebih dingin dari perkiraan

Baca juga: Wall St reli, pendinginan inflasi kurangi kekhawatiran suku bunga naik

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Artikel ini bersumber dari www.antaranews.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *