News  

Kementan minta KTNA bantu wujudkan swasembada jagung

Kementan minta KTNA bantu wujudkan swasembada jagung

Kita harus bisa merasa optimistis. Negara lain bisa, kurang apa alam kita. Sekarang, kita mau tidak untuk bekerja secara bersama-sama

Kota Batu, Jawa Timur (ANTARA) – Kementerian Pertanian (Kementan) meminta para petani khususnya tergabung dalam Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mampu meningkatkan produksi jagung dalam upaya mewujudkan swasembada komoditas tersebut.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Kota Batu, Jawa Timur, Jumat mengatakan per tahun Indonesia saat ini masih melakukan impor jagung untuk kebutuhan dalam negeri sebanyak 800 ribu ton.

“Kita mengimpor jagung itu 800 ribu ton per tahun. Tinggal dihitung, dari 200 ribu hektare lahan, tinggal dibagi di KTNA. Siapa yang menanggung berapa, kita coba untuk menjaga secara bersama. Kalau seperti itu, kita akan swasembada,” katanya.

Syahrul menjelaskan, potensi Indonesia untuk bisa mewujudkan swasembada komoditas jagung tersebut bukan merupakan hal yang tidak mungkin. Hal itu dikarenakan, Indonesia memiliki alam yang mampu untuk mendorong produktivitas komoditas tersebut.

“Kita harus bisa merasa optimistis. Negara lain bisa, kurang apa alam kita. Sekarang, kita mau tidak untuk bekerja secara bersama-sama,” katanya.

Ia menambahkan, terkait kebutuhan permodalan untuk mendorong produksi jagung guna mencapai swasembada tersebut, pemerintah telah menyiapkan skema kredit usaha rakyat (KUR) yang bisa dimanfaatkan oleh para petani.

Menurutnya, keinginan untuk mewujudkan swasembada jagung tersebut akan bisa terealisasi seperti komoditas lain yakni beras. Dalam waktu tiga tahun terakhir, kebijakan untuk mewujudkan swasembada beras yang dilakukan pemerintah dinilai berhasil.

“Tahun depan bukan hanya beras yang swasembada, jagung juga harus swasembada,” katanya.

Ia juga menyoroti komoditas lain yang seharusnya juga bisa didorong produksinya, yakni komoditas kedelai. Saat ini, kebutuhan kedelai di dalam negeri, mayoritas atau sebesar 98 persen dipasok dari impor.

“Tempe, tahu, kecap itu bahan bakunya masih impor. Karena harga lebih murah dan kualitas lebih baik. Tapi kenapa tidak dikejar yang kurang itu (produksi),” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Syahrul menghadiri Rembug Utama Kelompok KTNA Nasional 2022, yang digelar di Kota Batu, Jawa Timur dan melibatkan 2.000 petani dan nelayan dari seluruh Indonesia.

Rembug Utama tersebut diharapkan bisa menghasilkan rumusan rekomendasi yang bisa dipergunakan pemerintah untuk membangun langkah penguatan produksi pangan di dalam negeri.

Baca juga: Mentan tegaskan RI sudah tak impor jagung kecuali untuk industri

Baca juga: Kementan targetkan luas tanam jagung 2022 mencapai 4,26 juta ha

Baca juga: Mentan panen raya jagung hibrida di Gowa

Pewarta: Vicki Febrianto
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Artikel ini bersumber dari www.antaranews.com.