News  

Sri Mulyani pantau pemulihan terjadi menyeluruh di daerah

Sri Mulyani pantau pemulihan terjadi menyeluruh di daerah

Secara spasial kita tetap akan melihat apakah ada daerah atau sektor yang belum pulih sepenuhnya

Bandung (ANTARA) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terus memantau akselerasi pemulihan di seluruh daerah di Indonesia yang dapat dilihat melalui realisasi pertumbuhan ekonomi.

“Secara spasial kita tetap akan melihat apakah ada daerah atau sektor yang belum pulih sepenuhnya,” katanya dalam Konferensi Pers APBN KiTA yang diikuti Antara di Bandung, Kamis.

Sri Mulyani menuturkan semua pulau mengalami penguatan pertumbuhan di kuartal II dengan Sulawesi, Jawa, Maluku dan Papua tumbuh tinggi di atas perekonomian nasional.

Meski demikian, sumber pertumbuhan tertinggi ekonomi Indonesia pada kuartal II masih disumbang oleh Jawa sebesar 3,32 persen, Sumatera 1,05 persen dan Sulawesi 0,43 persen.

Sementara pertumbuhan di Maluku dan Papua, Kalimantan serta Bali dan Nusa Tenggara terutama didukung oleh peningkatan harga komoditas unggulan yang mendorong pertumbuhan sektor pertambangan.

Secara rinci, Pulau Jawa yang berkontribusi sebesar 56,55 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional telah mampu tumbuh 5,66 persen (yoy) pada kuartal II-2022.

Hal itu karena adanya jumlah penduduk yang padat di Pulau Jawa terutama daya beli masyarakat terutama kelas ke atas yang terus menggeliat.

Untuk Pulau Sumatera yang berkontribusi 22,03 persen terhadap PDB nasional tumbuh 4,95 persen pada kuartal II sedangkan Pulau Kalimantan dengan kontribusi 9,09 persen ke PDB nasional tumbuh 4,25 persen.

Untuk Pulau Sulawesi dengan kontribusi 7,1 persen ke PDB nasional tumbuh 6,47 persen sedangkan Maluku dan Papua dengan kontribusi 2,52 persen ke PDB nasional tumbuh 13,01 persen.

Di sisi lain, Bali dan Nusa Tenggara yang memiliki kontribusi 2,73 persen ke PDB nasional hanya tumbuh 3,94 persen mengingat arus masuk turis masih tertahan.

Turis dari China tertahan karena adanya lockdown sedangkan turis dari Eropa tertahan karena adanya perang dan inflasi yang tinggi.

“Sehingga yang masih bisa muncul (turis) di sekitar Asia di luar China dan dari Australia,” tegasnya.

Baca juga: Pengembangan kawasan industri akan percepat pertumbuhan ekonomi daerah

Baca juga: BKF sebut “travel bubble” bakal pacu pertumbuhan ekonomi daerah wisata

Baca juga: Kementerian Investasi-Apkasi dorong pertumbuhan investasi daerah


 

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Artikel ini bersumber dari www.antaranews.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *